❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Cinta
adalah suatu perasaan yang
positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami
semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan
semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan
penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang
berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda
daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk
meluapkan perasaan seperti berikut:
Terminologi
Penggunaan istilah cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan
love dalam bahasa Inggris.
Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk
eros, philia, agape dan
storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:
- Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros.
- Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia.
- Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape.
- Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge.
Etimologi
Beberapa bahasa, termasuk
bahasa Indonesia atau
bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di
Eropa, terlihat lebih banyak
kosakatanya dalam mengungkapkan
konsep ini. Termasuk juga
bahasa Yunani kuno, yang membedakan antara tiga atau lebih
konsep:
eros,
philia, dan
agape.
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut
Erich Fromm, ada lima syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
- Perasaan
- Pengenalan
- Tanggung jawab
- Perhatian
- Saling menghormati
Erich Fromm dalam buku larisnya (
The Art of Loving) menyatakan bahwa ke empat gejala:
care,
responsibility,
respect,
knowledge muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai
anak
tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggung jawab pada si anak.
Sementara tanggung jawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya
& tanpa rasa ingin mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para
orang tua, guru, rohaniwan, dan individu lainnya pada sikap otoriter.
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Hawa nafsu
adalah sebuah kekuatan emosional yang langsung
berkaitan dengan pemikiran atau fantasi tentang hasrat seseorang,
biasanya berkenaan dengan seks.
Hawa Nafsu Menurut Islam
"Hawa nafsu" terdiri dari dua kata:
hawa (الهوى) dan
nafsu (النفس).
Dalam bahasa Melayu, 'nafsu' bermakna keinginan, kecenderungan atau
dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu),
biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan
perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan
dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan
bersetubuh.
Ketiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab:
- Hawa (الهوى): sangat cinta; kehendak
- Nafsu (النفس): roh; nyawa; jiwa; tubuh; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha
- Syahwat (الشهوة): keinginan untuk mendapatkan yang lazat; berahi.
Ada sekelompok orang menganggap hawa nafsu sebagai "setan yang
bersemayam di dalam diri manusia," yang bertugas untuk mengusung manusia
kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa
manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal
ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat
dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.
Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar
biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul
ke permukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk
menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan
dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri
seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul ke permukaan (dalam
realita kehidupan). Maka dari itu menyucikan diri atau mengendalikan
hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki
keseimbangan, kebahagiaan dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di
jalur-jalur yang benar sajalah manusia dapat mencapai hal tersebut.
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Lukisan Eros bersama ibunya.
Eros
(
bahasa Yunani:
Ἔρως), dalam
mitologi Yunani, adalah dewa cinta dan nafsu seksual. Dia juga disembah sebagai dewi kesuburan.
Eros juga merupakan sebuah kata dalam
bahasa Yunani yang berarti
cinta berdasarkan
hawa nafsu saja. Kata turunannya adalah erotis.
Dalam
mitologi Yunani, Eros diceritakan sebagai anak dari
Afrodit, dewi kecantikan (
mitologi Romawi:
Venus). Eros disebut juga
Kupido atau Amor dan dilambangkan dengan anak kecil bersayap yang selalu membawa
busur dan
anak panah. Ada sebuah cerita yang mengatakan Eros bahkan memiliki hubungan antar pria dan wanita dengan ibunya sendiri.
Eros membantu manusia maupun dewa dalam urusan percintaan. Anak
panahnya tidak akan meleset, hati yang tertembus olehnya akan dipenuhi
oleh cinta.
Eros dan Psikhe
Psikhe adalah perempuan yang sangat cantik bahkan menyaingi kecantikan
dewi Afrodit.
Afrodit yang tidak rela kecantikannya tersaingi kemudian menyuruh
anaknya, Eros, untuk membuat Psikhe jatuh cinta pada lelaki yang jelek.
Ketika Eros hendak menembak Psikhe dengan panahnya, Eros secara tidak
sengaja menggores panah tersebut ke badannya sendiri sehingga Eros
menjadi jatuh cinta pada Psikhe.
Afrodit tidak menyetujui hubungan mereka dan memberi beberapa
tantangan pada Psikhe. Ketika menjalankan salah satu perintah Afrodit
tersebut Psikhe terkena kutukan. Eros kemudian mennyelamatkan Psikhe dan
mendatangi
Zeus. Zeus mengabulkan permintaan Eros dan menyatakan bahwa mereka boleh hidup bersama.
Eros - ἔρως - 性愛, cinta yang menginginkan, cinta bersyarat, asmara, terkena panah asmara, gandrung, gandrung kapirangu, gandrung wuyung, wuyung, dimabuk cinta (lovestruck), kasmaran (love-sickness), tergila-gila, jatuh cinta (falling in love), cinta mesra (intimate love), cinta intim (intimate love).
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Daya tarik seksual
adalah segala kelebihan yang dimiliki oleh seseorang (individu) yang terbaca oleh
lawan jenisnya dan dianggap sebagai pemikat dan pada umumnya dinyatakan sebagai ekspresi
cinta maupun
birahi. Daya tarik seksual adalah kenikmatan sex yang tidak bersifat "nikmat" secara langsung.
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Berahi
adalah istilah dalam
seksualitas yang menunjukkan keadaan kesiapan fisik dan mental suatu
individu untuk melakukan
hubungan seksual/
persanggamaan. Keadaan ini ditunjukkan oleh banyak
hewan, termasuk
manusia. Berahi dapat didorong oleh siklus fisik (muncul secara alami) maupun dimanipulasi untuk muncul.
Terdapat keadaan berahi yang sedikit berbeda antara manusia dan hewan lainnya. Pada
manusia,
berahi diketahui lebih banyak dikendalikan oleh kondisi kejiwaan, yang
menyebabkan terjadinya perubahan fisik pada beberapa organ. Dengan kata
lain, seseorang yang sehat dapat secara relatif mengatur sendiri
kesiapannya untuk mencapai kondisi berahi.
Percumbuan adalah perilaku yang paling umum dilakukan untuk mencapai taraf itu. Pada hewan, khususnya berkelamin
betina, berahi dikendalikan oleh suatu siklus hormonal (
siklus estrus, yang berbeda dengan
siklus haid pada manusia). Hewan
betina
tidak dapat dirangsang atau merangsang diri untuk siap bersanggama
apabila tubuhnya tidak berada pada kondisi yang memungkinkan.
Sebaliknya, pada manusia orang dapat kapan saja melakukan hubungan
persanggamaan, namun biasanya pada saat haid,
perempuan kehilangan keinginan untuk melakukannya.
Secara fisik, berahi ditunjukkan oleh meningkatnya aliran peredaran
darah dan meningkatnya suhu beberapa bagian tubuh, terutama bagian
reproduksi. Pada hewan jantan yang memiliki
penis, terjadi peningkatan aliran darah ke bagian ini dan penis akan menegang dan mengeras (disebut sebagai
ereksi).
Rangsangan terhadap pejantan ini bersifat kemofisik. Khusus pada
manusia juga bersifat psikis. Pada betina, berahi ditunjukkan oleh
peningkatan suhu di bagian sekitar
vagina. Pada manusia, selain perubahan pada vagina, juga terjadi pengerasan di bagian
puting susu (juga terjadi pada laki-laki).
Dalam
peternakan sapi dikenal istilah "3A" yang merupakan singkatan tiga pertanda dalam
bahasa Jawa untuk menunjukkan keadaan berahi:
abang,
abuh,
anget (merah, membengkak, hangat).
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Libido
dalam penggunaannya secara umum berarti gairah seksual;
namun dalam definisi yang bersifat lebih teknis, seperti yang ditemukan
dalam hasil karya
Carl Gustav Jung,
mempunyai pengertian yang lebih umum, mengartikan libido sebagai energi
psikis yang dimiliki individu untuk digunakan bagi perkembangan pribadi
atau individuasi.
Sigmund Freud (bapak
psikologi modern) memopulerkan istilah ini dan mendefinisikan libido sebagai energi atau daya
insting,
terkandung dalam apa yang disebut Freud sebagai identifikasi, yang
berada dalam komponen ketidaksadaran dari psikologi. Freud menunjukkan
bahwa dorongan libidinal ini dapat bertentangan dengan perilaku yang
beradab. Kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan
masyarakat
dan pengendalian libido menyebabkan ketegangan dan gangguan dalam diri
individu, mendorong untuk digunakannya pertahanan ego untuk menyalurkan
energi psikis dari kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebanyakan tidak
disadari ini ke dalam bentuk lain. Penggunaan berlebihan dari pertahanan
ego menyebabkan neurosis. Tujuan utama dari analisis psikologis adalah
untuk membawa dorongan identifikasi ke dalam kesadaran, yang
memungkinkan untuk ditemukan secara langsung sehingga mengurangi
ketergantungan pasien pada pertahanan ego.
Menurut psikolog
Swiss
Carl Gustav Jung, libido diidentifikasi sebagai energi psikis.
Pertentangan yang menghasilkan energi (atau libido) dari psikis, menurut
Jung, mengekspresikan diri hanya melalui simbol-simbol: "Adalah energi
yang memanifestasikan diri dalam proses kehidupan dan dipersepsi secara
subjektif sebagai usaha atau hasrat."
Didefinisikan secara lebih sempit, libido juga merujuk pada keinginan
individual untuk terlibat dalam aktivitas seksual. Dalam hal ini, lawan
kata dari libido adalah destrudo.
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
El carácter chino para el amor (愛 - 爱)
consiste en un corazón (en medio) dentro de «aceptar»,
«sentir» o «percibir» que muestra una emoción llena de gracia.
Cultura china y otras culturas sínicas
En el
idioma chino y la
cultura china contemporáneos, se usan varios términos o palabras raíz para el concepto de amor:
- Ai (愛 - 爱) se usa como verbo (p. ej., wo ai ni, «te amo») o como nombre, especialmente en aiqing (愛情 - 爱情), «amor» o «romance». En la China continental, y desde 1949, airen
(愛人 - 爱人, originalmente «amante», o, más literalmente, «persona de amor») es
la palabra dominante para «esposo» (habiendo sido desenfatizados
originalmente los términos separados para «esposa» y «marido»); la
palabra tuvo una vez una connotación negativa, que permanece, entre
otros lugares, en Taiwán.
- Lian (戀 - 恋) generalmente no se usa de forma aislada, sino como parte de términos tales como «estar enamorado» (談戀愛 - 谈恋爱, tan lian'ai —que también contiene ai), «amante» (戀人 - 恋人, lianren) u «homosexualidad» (同性戀 - 同性恋, tongxinglian). En el confucianismo, lian es un amor benevolente y virtuoso que deberían buscar todos los seres humanos, y refleja una vida moral. El filósofo chino Mozi desarrolló el concepto de ai (愛 - 爱) como reacción al lian confucianista. Ai, en el mohismo,
es un amor universal hacia todos los seres, no sólo hacia los amigos o
familia, sin consideración de la reciprocidad. La extravagancia y la
guerra ofensiva son hostiles hacia ai. Aunque el pensamiento de Mozi tuvo influencia, el término confucianista lian es el que la mayoría de los chinos usan para el amor.
- Qing (情), que comúnmente significa «sentimiento» o «emoción»,
generalmente indica «amor» en varios términos. Está contenido en la
palabra aiqing (愛情 - 爱情). Qingren (情人) es un término usado con el significado de «amante».
- Gănqíng (感情) es el «sentimiento» de relación, vagamente similar a la empatía. Una persona expresará amor construyendo buen gănqíng,
conseguido por medio de ayuda o trabajo prestados a otras personas y
apego emocional hacia otra persona o hacia cualquier otra cosa.
- Yuanfen (緣份 - 缘份) es la conexión de destinos vinculados. Una relación significativa es generalmente concebida como dependiente de un fuerte yuanfen.
Consiste en buena suerte a la hora de hacer un descubrimiento
afortunado e inesperado. Conceptos similares en español son: «Estaban
hechos el uno para el otro», o el «destino».
- Zaolian (simplificado: 早恋, tradicional: 早戀, pinyin: zǎoliàn),
literalmente, «amor temprano», es un término contemporáneo usado
frecuentemente para los sentimientos románticos o el apego entre niños o
adolescentes. Describe tanto la relación entre novio y novia
adolescentes como el enamoramiento
de la adolescencia temprana o la niñez. El concepto indica en esencia
la creencia prevalente en la cultura china contemporánea consistente en
que, debido a la demanda de los estudios (derivada sobre todo del
sistema educativo altamente competitivo de China), los jóvenes no crean
apego romántico y por lo tanto ponen en peligro sus oportunidades de
éxito futuro. Han aparecido informes en periódicos y otros medios chinos
que detallan la prevalencia del fenómeno, los peligros observados en
los estudiantes y los temores de sus padres.
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀
Chinese and other Sinic cultures
Two philosophical underpinnings of love exist in the Chinese tradition, one from
Confucianism which emphasized actions and duty while the other came from
Mohism which championed a universal love. A core concept to Confucianism is
Ren
("benevolent love", 仁), which focuses on duty, action and attitude in a
relationship rather than love itself. In Confucianism, one displays
benevolent love by performing actions such as filial piety from
children, kindness from parent, loyalty to the king and so forth.
The concept of
Ai (愛) was developed by the Chinese philosopher
Mozi
in the 4th century BC in reaction to Confucianism's benevolent love.
Mozi tried to replace what he considered to be the long-entrenched
Chinese over-attachment to family and clan structures with the concept
of "universal love" (
jiān'ài, 兼愛). In this, he argued directly
against Confucians who believed that it was natural and correct for
people to care about different people in different degrees. Mozi, by
contrast, believed people in principle should care for all people
equally. Mohism stressed that rather than adopting different attitudes
towards different people, love should be unconditional and offered to
everyone without regard to reciprocation, not just to friends, family
and other Confucian relations. Later in
Chinese Buddhism, the term
Ai (愛) was adopted to refer to a passionate caring love and was considered a fundamental desire. In Buddhism,
Ai was seen as capable of being either selfish or selfless, the latter being a key element towards enlightenment.
In contemporary Chinese,
Ai (愛) is often used as the equivalent of the Western concept of love.
Ai is used as both a verb (e.g.
wo ai ni 我愛你, or "I love you") and a noun (such as
aiqing 愛情, or "romantic love"). However, due to the influence of Confucian
Ren,
the phrase ‘Wo ai ni’ (I love you) carries with it a very specific
sense of responsibility, commitment and loyalty. Instead of frequently
saying "I love you" as in some Western societies, the Chinese are more
likely to express feelings of affection in a more casual way.
Consequently, "I like you" (
Wo xihuan ni, 我喜欢你) is a more common way of expressing affection in Chinese; it is more playful and less serious.
[28] This is also true in Japanese (
suki da,
好きだ). The Chinese are also more likely to say "I love you" in English
or other foreign languages than they would in their mother tongue.
❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀